Sebelum kita mengambil pelajaran dari kisah seorang Gus Dur. Saya akan menceritakan sedikit tentang biodata nya. Abdurrahman Wahid atau yang lebih kita kenal sebagai Gus Dur lahir pada 7 September 1940 Jombang Jawa Timur. Beliau lahir dalam keluarga yang cukup kental kakek beliau adalah Hadratus SaidKyai Haji Hasyim Ashari yaitu pendiri Nahdlatul Ulama atau NU, bapaknya bernama Wahid Hasyim dan ibunya Hajah sholehah. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Adakil yang berarti sang penakluk, namun nama ini tidak begitu dikenal oleh kalangan masyarakat. Gus Dur bersekolah dasar di SD Mataram Perwari pada tahun 1949. Dari kecil ayahnya selalu menyemangatinya untuk selalu membaca buku mau itu buku majalah, buku Islam atau buku populer lainnya agar beliau bisa mempunyai pengetahuan yang luas. Setelah itu beliau melanjutkan SMP di pesantren Krapyak pada tahun 1954, dan setelahnya lanjutkan pesantren di Tegal Rejo Magelang. Dikarenakan beliau mulai aktif menulis dia menerima beasiswa dari Kementerian Agama untuk berkuliah di Universitas Al-Azhar yang berada di Kairo Mesir pada tahun 1963, dari Universitas Al-Azhar dia melanjutkan pendidikannya di Universitas Baghdad Irak dengan mengambil dalam sastra Arab. Setelah menyelesaikan studinya di Baghdad, beliau melanjutkan aktivitas menulisnya jadi kontributor di surat kabar seperti harian Kompas. Beliau adalah orang yang suka bercanda. Beliau ketika semasa menjabat sebagai presiden Indonesia, dia sangat gigih menegakkan demokrasi dan pluralisme atau keragaman. Dia sangat membela sekali kepentingan kaum minoritas khususnya kaum Tionghoa. Ini membuat beliau sangat dicintai masyarakat. Beliau tutup usia pada hari Rabu tanggal 30 Desember 2009 Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta pada pukul 18. 45 akibat banyaknya komplikasi penyakit sejak dulu. Seringkali beliau tertidur ketika sidang sedang berlangsung, ketika gilirannya untuk berbicara, dia bisa menyampaikan bahasannya dengan cerdas dan tangkas seolah-olah Dia sedang memperhatikan sepanjang sidang berlangsung.
Pelajaran yang bisa saya ambil dari sosok Gus Dur ini sangat banyak seperti gemar nya beliau untuk membaca yang membuat pengetahuan beliau semakin luas hingga semakin kritis dalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Islam, yang kedua yaitu kegigihan beliau untuk menyuarakan keberpihakannya pada mereka yang berbeda dari kita. Dia juga sering memberikan nasihat kepada anak-anaknya dan juga memberikan teladan sebagai contoh untuk dijadikan panutan. Selain dari itu, Beliau juga bisa menjadi role model atau panutan bagi para anak santri untuk mendialogkan Islam dengan pemikiran-pemikiran baru, juga harus berani menambahkan tradisi tradisi islam yang baru dengan tradisi Islam di luar Nusantara agar tradisi Islam Indonesia semakin berkembang. Dan yang terakhir, Gus Dur pernah berkata " tidak boleh ada pembedaan kepada setiap warga negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa Ibu, kebudayaan serta ideologi". Beliau sejatinya mengajarkan kepada kita untuk tidak saling membedakan satu dengan yang lain meskipun orang tersebut adalah minoritas.
Demikian artikel yang bisa saya tulis, jika ada kesalahan penyampaian, saya mohon maaf.
Nama : Raihan Zahir Mumtaz
NPM : 2221020327
Jurusan : Hukum Tata Negara
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Komentar
Posting Komentar