Kiri Hijau Kanan Merah
Sebelum kita mengambil pelajaran dari film dokumenter tersebut. Saya akan menceritakan tentang biodata dari Munir. Munir Said Thalib atau yang biasa kita kenal sebagai Munir lahir pada tanggal 8 Desember 1965 di Batu - Jawa Timur. Beliau lahir dari bapak yang bernama Said Thalib dan Ibu yang bernama Jamilah, mereka sekeluarga memiliki 5 bersaudara. Munir berekolah dasar di SD Muhammadiyah dari tahun 1976 hingga tahun 1981, setelah itu beliau melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 batu dari tahun 1981 hingga tahun 1983, beliau menempuh Sekolah Menengah akhir di SMA Negeri 1 batu pada tahun 1983 hingga 1985, setelah itu beliau berkuliah di Universitas Brawijaya di Malang dengan mengambil jurusan hukum. Selain juga berkuliah, juga mengikuti beberapa organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setelah lulus dari Universitas, Munir bekerja sebagai sukarelawan di LBH Pos Malang dan beberapa lembaga bantuan hukum yang lain. Tidak lama dari situ, beliau menikah dengan perempuan yang bernama Suciwati, suciwati sendiri adalah seorang aktivis buruh. Mereka memiliki dua anak dari hasil pernikahan tersebut. Diduga dibunuh dengan cara diracuni di pesawat ketika dia ingin ke Belanda, dia kala itu mengira kalau dia terkena maag akibat meminum jus jeruk. Dan benar saja, pada tanggal 12 November 2004, polisi Belanda yang mengautopsi jasad Munir memberikan pernyataan bahwa terdapat zat arsenik yang diduga diberikan kepadanya ketika minum jus jeruk itu.
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup beliau ini, jika kita melihat film dokumenter tersebut di sekolah adalah anak yang biasa saja dengan kepintarannya, namun yang membedakan dia dari orang lain adalah sifat kritis dia dan kemauan dia untuk bertindak terhadap apa yang sedang terjadi di sekitarnya, dia juga senang berdiskusi dan kritis terhadap sesuatu. Beliau adalah seorang aktivis HAM yang sudah banyak menangani kasus-kasus. Salah satu kasus yang berhasil ditangani Munir ialah kasus hilangnya 24 aktivis, seniman, dan pelajar di Jakarta pada tahun 1997 hingga 1998.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari perjuangan beliau adalah kita sebagai masyarakat dan mahasiswa terutama harus bisa berani menyuarakan ketidakadilan yang terjadi di kalangan masyarakat, ini bertujuan agar adanya ketidakadilan yang terjadi bisa didengar. Tidak hanya menyuarakan, Kita juga harus berani bertindak dalam memberantas ketidakadilan tersebut, mau itu ketidakadilan tentang hak asasi manusia, ketidakadilan terhadap rakyat yang jelata, ataupun ketidakadilan terhadap buruh. Kita sebagai mahasiswa harus sadar terhadap kondisi terjadi di Indonesia ini, karena kita sebagai pelajar terus bisa menyuarakan aspirasi rakyat.
Sekian dari artikel tersebut. Maaf jika ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisan artikel ini.
Nama : Raihan Zahir Mumtaz
NPM : 2221020327
Jurusan : Hukum Tata Negara
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Komentar
Posting Komentar