Mungkin bagi sebagian dari kita nama Tan Malaka masih terdengar asing, ini dikarenakan nama Tan Malaka sendiri memang jarang dipelajari di buku sejarah sekolah kita. Tan Malaka banyak dikenal sebagai sosok Bapak Republik, dia adalah salah satu tokoh penggagas awal Republik Indonesia, Beliau juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang mempersatukan Islam dan komunisme untuk melawan masa penjajahan imperialisme Belanda. Sebelum saya menyampaikan pelajaran dari sosok Tan Malaka, saya akan menceritakan sedikit biodata tentang beliau. Tan Malaka lahir di Pandan, Gadang, Suliki di Sumatera Barat pada tanggal 2 Juni 1897. Beliau berasal dari keluarga berada atau bangsawan, dia terlahir dari orang tua yang bernama Rasyid Chaniago dan Sinah Sinabur. Tan Malaka menempuh pendidikan di sekolah Hindia Belanda di Bukittinggi, di sana dia dikenal sebagai murid yang cerdas. Ketika usia 16 tahun dia melanjutkan pendidikan di Belanda, di sana ia mulai berkenalan dengan apa itu yang dimaksud politik dan sosialisme. Setelah di Belanda ia kembali ke Indonesia untuk menjadi guru di perkebunan Deli, Sumatera Utara. Pada saat di Indonesia ya banyak bergabung di organisasi-organisasi di sana, seperti pada tahun 1921 beliau bergabung dengan Sarekat Islam yang saat itu dipimpin oleh Tjokroaminoto. Pada tanggal 13 Februari 1922, Tan Malaka ditangkap dan dibuang ke Belanda, di sana dia menjadi anggota parlemen di Partai Komunis Belanda dan ditunjuk sebagai wakil komunis internasional untuk daerah Asia Timur. Meninggal pada tanggal 21 Februari 1949, dia di eksekusi di Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur.
Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari sosok Tan Malaka ini, salah satunya ialah kejujuran dan keikhlasan. Diceritakan oleh keponakannya, dulu Tan Malaka tidak pernah menuntut balasan apapun jasa-jasanya pada Republik Indonesia. Yang dia pentingkan adalah masyarakat Indonesia terutama pada saat itu adalah pribumi dan para buruh untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan mumpuni. Beliau melakukan ini karena dia berpikir bahwa, masyarakat harus mempunyai otak yang cerdas untuk bersaing dengan negara lain. Masalah ini juga masih relevan hingga sekarang, bahwa di zaman modern ini, jika masyarakat tidak bisa bersaing maka Indonesia akan mengalami perkembangan yang sangat lambat. Maka kita sebagai mahasiswa khususnya harus bisa menjadi contoh dan panutan terhadap masyarakat lain dalam mencari ilmu. Sikap beliau yang mementingkan pendidikan ini tercantum dalam kutipannya sebagai berikut "Mengajari anak-anak Indonesia saya anggap pekerjaan tersuci dan terpenting".
Demikian artikel yang bisa saya tulis, jika ada kesalahan penyampaian, saya mohon maaf.
Nama : Raihan Zahir Mumtaz
NPM : 2221020327
Jurusan : Hukum Tata Negara
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Komentar
Posting Komentar